Langsung ke konten utama

Somedays Feel Better

 


Ada kata singkat yang menurutku itu nyentil banget dihati dan membekas sampai saat ini. Begini katanya “it will pass”, semua akan sembuh pada waktunya. Kadang kita bertanya-tanya kapan semua terlewat? Kapan kita akan sembuh? Rasa-rasanya setiap hari semakin berat. Walaupun kita gak tau kapan pastinya, bisa aja nanti, besok, bulan depan, bahkan bisa beberapa tahun kedepan. Kita cuma tau, kalau hari ini harus selesai dengan baik-baik saja. Agar besok tidak ada penyesalan atas apa yang telah terjadi kemarin.


Bicara perihal penyesalan, hidup tuh bakal terasa ringan kalau kita gak terlalu mikirin bagaimana manusia lain bersikap sama kita. nggak perlu atau bahkan haus validasi dari orang lain. Terima kenyataan bahwa gak semua hal bakal tetep sama, terima kenyataan apa adanya. Jangan maksain sesuatu yang udah gak bisa sejalan bareng. Jangan maksain pegangan sama besi yang panasnya udah mulai membakar tangan kamu. Ternyata kata “ohhh ternyata gitu ya, yaudah gak usah dipikirin” itu gak apa-apa banget. Bukan berarti kita egois, ada kalanya rasa kecewa gak pantas kita kasih ruang buat singgah. Apa yang terjadi kemarin, hari ini, dan besok pasti akan berbeda.


Mungkin akan ada hari dimana kamu merasa tenang dan damai. Dan ada hari lain, dimana luka itu kerasa perih sampai kamu ingin teriak sekecang-kencangnya. Bukan berarti kamu gagal. Hanya saja kamu sedang melewati fase-fase penyembuhan. Bahkan terkadang luka yang tertutup masih ninggalin rasa nyeri karena proses penyembuhan. Hidup tuh simpel tanpa perlu dibikin ribet. Kayak botol yang hanyut dialiran air, yaudah ngalir aja dulu, tanpa tujuan tanpa arah. Ehh tau-taunya udah sampai tujuan.


Kadang yang tampak tidak baik-baik saja bukan berarti tanda orang itu lemah, mungkin itu cara nunjukin kalau mereka sedang kecewa dan terluka. So, be your self. Lakuin apapun yang kamu mau dan suka, lakuin apapun yang buat kamu lupa kalau kamu pernah nangis, pernah terluka, kecewa dan nyalahin diri sendiri. Gak apa-apa kalau fase bahagia-sedih-bahagia-sedih itu keulang-ulang terus. Namanya juga hidup, akan ada sesuatu yang tumbuh dari rasa sakit itu. Kayak bunga yang tiba-tiba muncul di antara reretakkan bebatuan diatas tebing.


Manusia tuh ibaratnya kayak dua sisi bumi, sisi terang yang selalu terlihat menarik dan sisi gelap yang tersembunyi misterius. Kadang yang tidak terlihat bukan berarti akan selamanya jadi bagian paling gelap, mungkin saja matahari belum datang. Ibaratnya siang dan malam, malam gak selalu malam dan yang pagi gak akan selamanya pagi, semua akan berganti. 


Dan dari sisi yang gelap, suram dan tidak terlihat kita belajar, kalau bakal ada waktu dimana gelapmu akan menjadi sinar yang paling cerah. Akan ada sedikit demi sedikit cahaya yang masuk dan membuat ruangmu tampak indah. Saat itu terjadi akan ada hari dimana luka itu akan sembuh. Meskipun bekasnya masih ada, tapi sakitnya sudah bisa kamu hadapin.


Maka dari itu jangan terlalu fokus pada rasa sakitnya, coba liat sisi baiknya. Bisa aja dari kesalahan kemarin kamu jadi nemuin diri kamu yang lain, kamu yang bermekaran dan tumbuh layaknya bunga yang indah. Bahkan jika angin kencang dan badai itu datang lagi, sekarang akarmu jauh lebih kokoh dan kuat. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Meski Dunia Bilang TIDAK MUNGKIN

Diperjalanan pulang kali ini, dengan sinar matahari yang masih terasa menyengat. Aku menyusuri jalanan yang biasanya aku lewati. Di pemberhentian lampu merah, mataku tertuju akan sesuatu.  Seorang anak kecil sedang mengelap kaca mobil yang berhenti, kakinya tak beralas, bajunya penuh dengan keringat, sambil menggendong adiknya yang balita. Mungkin saja dia belum makan hari ini. Sesaat kemudian dia tersenyum dan menunduk saat menerima uang recehan dari pemilik mobil.  Di seberang jalan kakek penjual minuman sedang menawarkan dagangannya, sudah tak terhitung berapa banyak orang yang menolaknya. Mungkin saja dia sudah berkeliling disana sejak pagi, padahal beban dagangan yang dipikulnya sangat berat. Sambil menyeka keringan yang jatuh, liatlah dia masih tersenyum tulus.  Di depan toko pinggir jalan, duduk anak muda berbaju kemeja yang hampir lusuh dan berkeringat, dengan seamplop berkas di tangan kirinya, raut wajahnya begitu lelah. Mungkin saja ini hari kesekian lamaran ker...

GARIS WAKTU | Berdamai Dengan Diri Sendiri

Rasanya tahun demi tahun cepat berlalu, bukan?, hari berganti hari, bulan berganti tahun, umur yang semakin bertambah, pikiran-pikiran yang mulai sesak dengan berbagai ekspektasi kehidupan. Mungkin kita harus sedikit mengurangi ekspetasi berlebih akan kehidupan, tapi tidak ada salahnya jika berharap. Di tambah dengan situasi dan keadaan saat ini, yang menginginkan kita bertindak lebih baik untuk menyikapi sesuatu, berusaha lebih keras, berpikir lebih luas. Dengan waktu yang semakin berjalan pada porosnya dan kita yang bingung kemana arah tujuannya.  Melihat orang lain berkembang dan kita yang tertinggal jauh, membuat pikiran dan mental terkuras. Bagaimana tidak?, media sosial membuatnya semakin buruk, melihat update postingan Instagram Story, status Facebook, status Whatsapp teman-teman kita ataupun saudara dan orang-orang lain yang kita kenal, bisa membuat merasa rendah diri bukan?. Sajian foto dan video pencapaian dan prestasi mereka yang terpanjang di kolom media sosial.  T...